KUALITAS bubuk kopi
bergantung pada proses pengolahan biji kopi yang dipergunakan. Hal itu menjadi
salah satu pembeda kopi jetak dari kopi yang lainnya.Ya, "kedahsyatan" kopi yang merupakan produksi warga Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus itu tidak terbantahkan.
"Sejumlah penikmat kopi yang saya temui mengungkapkan, kopi Jetak memang lain. Sebab, biji kopi yang dipergunakan sebagai bahan baku berbeda dari kopi yang lain. Proses penggorengan biji kopi sampai berwarna hitam, sedangkan biasanya hanya kecokelatan," ujar pemilik UD Mentari, Sudirman.
Pusat kopi yang
berlokasi tepat di depan Masjid Tuwang, jalan Jetak, Kedungdowo, yang
dirintisnya sejak sepuluh tahun terakhir itu membuat pria yang dikaruniai
delapan anak tersebut tahu betul seluk-beluk perdagangan kopi. Termasuk
bagaimana trik mengetahui kopi yang berkualitas.
"Ampas kopi
jetak jika dileletkan di sebatang rokok akan langsung kering sehingga api rokok
tidak padam dan rokok tetap utuh. Padahal kalau diberi kopi lain yang
berkualitas rendah, rokok akan patah dan tidak lagi dapat dinikmati karena
kandungan air pada ampasnya tinggi," urainya.
Tanpa Jagung
Menurutnya, hal
itu bisa terjadi karena pada proses pengolahan, biji kopi jetak tidak dicampur
dengan biji jagung sehingga kualitas bubuk kopinya terjaga.
Selain itu, pada
proses penggorengan biji kopi, ditambahkan air kopi sebagai jatu(bahan
tambahan). Hal itu untuk memperlama daya tahan kopi. Biji kopi didatangkan dari
luar daerah seperti Sumatera melalui pemasok.
"Kopi jetak
dapat bertahan sampai setahun. Rahasianya ada pada jatu yang
diberikan pada proses penggorengan. Akan berbeda jika jatu ditambahkan
setelah proses penggorengan, kopi hanya bertahan enam bulan. Ini adalah salah
satu trik yang dipergunakan perajin kopi," ungkapnya.
Di desa seluas
308,227 hektare dengan 199,064 hektare berupa sawah itu terdapat 40 perajin
kopi.
Para perajin
tersebut, rata-rata membutuhkan 5 - 50 kilogram biji kopi sehari. Biji kopi
tersebut kemudian diolah menjadi bubuk kopi.
"Skalanya
masih industri rumahan, jadi jumlah produksinya tidak menentu. Jika stok habis,
baru para perajin itu memproduksi lagi, bergantung pada pemasarannya,"
ujarnya.
Kopi tersebut
dikemas dalam berbagai ukuran kantong dengan harga jual Rp 25.000 - Rp 30.000
per kilogram.
Sumber : //kudussemarak.blogspot.co.id/2009/03/mantapnya-rasa-kopi-jetak-khas-kudus.html
Komentar
Posting Komentar