
Garang
asem? Bagi sebagian orang, menu ini mungkin asing. Garang asem yang konon
masakan khas Purwodadi, Jawa Tengah, ini biasa disantap sebagai lauk alias
teman nasi. Rasanya segar karena berkuah dan tanpa santan.
Jika
Anda jalan-jalan ke Kudus, cobalah mampir ke Rumah Makan Sari Rasa. Anda akan
menjumpai garang asem yang begitu lezat dan segar.
Nama
garang asem hakikatnya merujuk pada rasa makanan dan cara memasaknya. Garang
asem adalah lauk yang dimasak dengan cara dibungkus daun pisang dan dikukus
(digarang/dipanaskan). Lauknya bisa apa saja, seperti berlaku pada masakan
pepes, misalnya ayam, jeroan, ikan, jamur, atau tahu. Rasanya agak asem (asam)
karena lauk tadi dicampuri irisan tomat hijau.
Kami
sendiri sudah sedemikian akrab dengan masakan ini. Di Solo banyak dijumpai
warung yang menjual menu ini, apalagi di Purwodadi yang berjarak sekitar 40
kilometer dari Kudus. Garang asem juga mudah ditemui di Yogyakarta dan bahkan
Jakarta. Di warung-warung kecil, seumpama warung Mbak Har di kompleks Bujana
Tirta, Rawamangun, Jakarta Timur, garang asem juga ditawarkan.
Sudah
lewat jam makan siang ketika kami tiba di Sari Rasa, Jalan Agil Kusumadya, Jati
Kulon, Kudus, pekan lalu. Pukul 14.15 itu matahari terik. Ternyata dugaan kami
meleset, warung masih riuh pengunjung sampai kami harus menyisir bangku,
mencari yang masih lega. Seorang pengunjung beringsut saat kami duduk di bangku
dekat pintu.
”Setiap hari ramai seperti ini,” kata Gunawan, sahabat yang berdomisili di Kudus dan merekomendasikan tempat ini. Seorang pelayan datang dan bertanya, ”Minumnya apa?” Dia tak menanyakan pesanan kami, padahal warung ini juga menyediakan menu ayam goreng kremes, telur, dan menu lain.
”Setiap hari ramai seperti ini,” kata Gunawan, sahabat yang berdomisili di Kudus dan merekomendasikan tempat ini. Seorang pelayan datang dan bertanya, ”Minumnya apa?” Dia tak menanyakan pesanan kami, padahal warung ini juga menyediakan menu ayam goreng kremes, telur, dan menu lain.
”Menu
yang lain itu untuk tamu yang tidak suka pedas. Garang asem kan pedas, pakai
cabai rawit segini, lho,” jelas Yully (31), pemilik Sari Rasa, sambil
menunjukkan sekepal cabai rawit merah. O… apa hanya dengan melirik wajah kami,
pelayan tadi bisa menyimpulkan kami ini penyuka makanan pedas?
Segar
dan Asam Tomat
Begitu
kami buka bungkusan daun pisang yang masih panas kemepul, yang terlihat adalah
tomat sayur begitu banyak. Setelah disingkap, ternyata satu potong ayam kampung
tersembunyi di bawahnya. Inilah yang membikin garang asem ini begitu segar.
Belasan iris tomat sayur dan kuah tanpa santan. Rasa pedas justru membikin kuah
makin segar. Huhh hahhh….
”Kami tidak menakar tomatnya per bungkus berapa iris. Pokoknya, kami memasak 1,5 kuintal tomat sayur untuk 250 ekor ayam kampung. Kalau sudah dicampur, barulah dimasuk-masukkan ke daun pisang. Jadi, jumlah tomatnya bisa berlainan, tetapi selisihnya ya paling seiris-dua iris,” jelas Yully.
”Kami tidak menakar tomatnya per bungkus berapa iris. Pokoknya, kami memasak 1,5 kuintal tomat sayur untuk 250 ekor ayam kampung. Kalau sudah dicampur, barulah dimasuk-masukkan ke daun pisang. Jadi, jumlah tomatnya bisa berlainan, tetapi selisihnya ya paling seiris-dua iris,” jelas Yully.
Kuahnya
dulu kami cicip, ternyata rasanya memang lezat, pas di lidah kami. Pedasnya pun
cespleng. Sesuap demi sesuap dan habislah satu bungkus garang asem. Pedasnya
garang asem ditambah teriknya sengatan matahari di luar plus panasnya warung
yang tidak berpenyejuk ruangan membikin keringat bercucuran. Justru, di sinilah
titik nikmatnya.
Erwin dan Freddy, warga Jakarta yang kerap bolak-balik Jakarta-Kudus, selalu menyempatkan makan siang di Sari Rasa. ”Kalau malam kadang sudah habis,” kata Freddy.
Erwin berpendapat, garang asem bikinan Yully ini istimewa karena selain bumbunya pas dan segarnya menggugah selera, juga karena daun pisang tidak dilapisi plastik. ”Banyak yang dilapisi plastik, maksudnya supaya kuah tidak bocor, tetapi rasanya jadi lain dan tidak sehat, kan,” kata pemasok alat berat ini.
Erwin dan Freddy, warga Jakarta yang kerap bolak-balik Jakarta-Kudus, selalu menyempatkan makan siang di Sari Rasa. ”Kalau malam kadang sudah habis,” kata Freddy.
Erwin berpendapat, garang asem bikinan Yully ini istimewa karena selain bumbunya pas dan segarnya menggugah selera, juga karena daun pisang tidak dilapisi plastik. ”Banyak yang dilapisi plastik, maksudnya supaya kuah tidak bocor, tetapi rasanya jadi lain dan tidak sehat, kan,” kata pemasok alat berat ini.

Dikukus
1,5 jam
Yully
tidak segan membagi resep masakannya. Bikin garang asem itu gampang, kata dia.
Bumbu berupa bawang putih, bawang merah, dan kemiri ditumbuk hingga halus.
Tambahkan lengkuas dan garam serta gula secukupnya. Gilingan bumbu tersebut
lantas dicampur dengan air yang sudah dituang di kuali. Masukkan irisan tomat
sayur dan irisan cabai rawit.
Satu
potong ayam ditaruh di atas daun pisang, lalu diguyur dengan air bumbu tadi.
Dan pisang ditutup dan direkatkan, lantas dikukus selama 1,5 jam. Selesai.
”Mudah banget, kan? Semua orang bisa buat,” ujar Yully. Dia menambahkan, banyak
orang sudah mencoba membuat, tetapi rasanya tidak bisa selezat seperti di Sari
Rasa.
Dua
juru masak memegang peran utama, yakni Sakimim yang adalah paman Yully, dan
Yanto. Sakimin, Yanto, dan Yully dibantu 20 karyawan yang semuanya berasal dari
Purwodadi.Menurut Yully sendiri, apa yang membuat garang asemnya menjadi begitu enak? ”Apa ya? Bumbunya mungkin pas buat kebanyakan orang. Agar gurih dan tetap sehat, kami memakai kemiri. Kalau di Purwodadi, masih banyak yang memakai santan,” sahut dia.
Sumber :
http://noenkcahyana.blogspot.co.id/2011/07/garang-asem-ayam-kampung-dari-kudus.html
Komentar
Posting Komentar